Mitos-Vaksin-12-1200x675.jpg

06/09/2021 0

APA SAJA MITOS YANG PALING SERING BEREDAR DI MASYARAKAT SOAL VAKSIN DAN COVID-19?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro menjawab sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat terkait vaksinasi dan Covid-19 dalam acara bincang-bincang yang digelar virtual, Jumat (27/8) malam. Apa saja mitos yang paling banyak beredar?

1. Mitos: Keberadaan chip yang disuntikkan ke dalam tubuh melalui vaksin Covid-19

Reisa menjelaskan, vaksin buatan manapun, baik Amerika, Eropa, atau China, punya standar internasional yang sama. Vaksin hanya berisi komponen virus serta bahan-bahan yang membuat vaksin awet di dalam tubuh.

“Jadi tidak ada tuh isi chip segala macam,” kata dia.

2. Mitos: Merokok dapat menangkal virus corona

Reisa menegaskan hal itu tidak benar. Dia mengatakan bahwa merokok justru memperburuk kondisi tubuh, terlebih terinfeksi Covd-19.

Merokok juga berpotensi menularkan droplet ke lingkungan sekitar, apalagi jika dilakukan di ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang bagus. Hal itu membuat virus bertahan di udara dan berpotensi terhirup oleh orang lain.

3. Mitos: Anak-anak kebal terhadap Covid-19

Reisa mengatakan bahwa tingkat kematian anak-anak karena Covid-19 di Indonesia justru tergolong tinggi. Ia menyerukan agar semua pihak ekstra hati-hati menjaga anak dan mengajarkan protokol kesehatan pada anak.

“Jadi jangan salah kaprah, anak-anak ini bukan berarti kebal dan justru malah kita harus bersedih karena di Indonesia ini tingkat kematian anak karena Covid-19 ini tinggi sekali dibanding negara lainnya” kata Reisa.

Protokol kesehatan dapat diabaikan setelah menerima vaksin Covid-19
Reisa menilai hal itu salah kaprah. Vaksinasi Covid-19 tidak membuat tubuh menjadi kebal 100 persen.
Vaksin, merupakan bagian dari ikhtiar membentengi diri dari penularan Covid-19. Selain vaksin, ikhtiar lain yang harus dilakukan adalah menerapkan protokol kesehatan.

“Nantilah, suatu saat kalau misalnya semuanya sudah divaksinasi, kita sudah mempunyai herd immunity atau kekebalan komunal, barulah kita bisa berharap bisa melonggarkan protokol kesehatan ini,” kata Reisa.

4. Mitos: Minum minyak kayu putih dapat menyembuhkan Covid-19

Reisa mengatakan, mengonsumsi minyak kayu putih justru dapat membahayakan tubuh dan berpotensi menimbulkan penyakit baru.

5. Mitos: Imunitas orang yang pernah terinfeksi Covid-19 lebih baik dari orang yang divaksinasi

Reisa mengatakan bahwa daya tahan tubuh yang terbentuk dari orang yang terinfeksi Covid-19 berbeda-beda. Ada yang bentuknya ringan, ada yang terbentuknya optimal.

Menurut Reisa, yang lebih baik adalah mendapatkan perlindungan dari vaksin. Sebab, tingkat perlindungannya sudah tertakar dan sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga bisa optimal.

“Apalagi kalau sempat sakitnya gejalanya ringan, biasanya antibodinya justru tidak terlalu optimal seperti yang diharapkan dan biasanya tidak bertahan lama seperti dari vaksin,” kata dia.

Baca juga : Sekarang Ibu Hamil Sudah Bisa Vaksin

==================
Telah terbit di : republika.co.id
sumber : Antara

Lab Populer

Ibu-Hamil-Sudah-Bisa-Vaksin-12-1200x675.jpg

31/08/2021 0

Untuk melindungi ibu hamil dan bayinya dari infeksi COVID-19, Kementerian Kesehatan memastikan akan segera memberikan vaksin COVID-19 kepada ibu hamil.

Lab Populer

Turun-Harga-Px-Swab-12-1-1200x675.jpg

19/08/2021 0

LEBIH MURAH, LEBIH HEMAT, LEBIH EKONOMIS!

Dalam rangka mendukung program pemerintah bahwa untuk meningkatkan jumlah test di INdonesia maka harus diadakan penyesuaian harga pemeriksaan SWAB ANTIGEN DAN SWAB PCR bagi pasien.

HARGA BARU MULAI HARI INI…!!!!

Dapatkan Harga terbaru Swab Antigen dan Swab PCR. Lebih Murah, Lebih Ekonomis!

Swab Antigen 150 Ribu
Swab PCR 599 Ribu.

 

Lab Populer

Baner-Artikel-Awas-Masker-Palsu-12-1200x675.jpg

07/04/2021 0

Dalam masa pendemi COVID-19 salah satu upaya untuk mencegah penularan adalah menggunakan masker. Namun telah beredar di masyarakat terkait isu masker palsu yang dikhawatirkan membuat seseorang rentan tertular virus SARS-CoV-2.

Pada awal masa pandemi terjadi kelangkaan ketersediaan masker medis sehingga Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan kementerian lain melakukan berbagai upaya agar ketersediaan masker dapat dipenuhi. Saat ini telah lewat 1 tahun pandemi COVID-19 sudah ada 996 industri masker medis yang sudah memiliki nomor izin edar dari Kementerian Kesehatan.

“Kalau dia sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes artinya masker ini dikategorikan sebagai masker bedah atau masker N95 atau KN95 yang dikategorikan sebagai alat kesehatan,” kata Plt Dirjen Farmalkes, drg. Arianti Anaya, MKM, dalam konferensi pers, Minggu (4/4).

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memakai masker. Pasalnya saat ini telah beredar masker palsu yang dapat meningkatkan kerentanan penularan virus SARS-CoV-2.

Drg. Arianti menjelaskan jenis masker medis adalah masker bedah dan masker respirator. Masker bedah berbahan material berupa Non – Woven Spunbond, Meltblown, Spunbond (SMS) dan Spunbond, Meltblown, Meltblown, Spunbond (SMMS).

Msker tersebut digunakan sekali pakai dengan tiga lapisan. Penggunaannya menutupi mulut dan hidung.

Lain halnya dengan masker respirator atau biasa disebut N95 atau KN95. Biasanya masker respirator ini menggunakan lapisan lebih tebal berupa polypropylene, lapisan tengah berupa elektrete / charge polypropylene.

Masker jenis ini memiliki kemampuan filtrasi yang lebih baik dibandingkan dengan masker bedah. Biasanya masker respirator ini digunakan oleh pasien yang kontak langsung dengan pasien COVID-19 dan juga selalu digunakan untuk perlindungan tenaga kesehatan.

Ketika produk masker sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan maka masker tersebut telah memenuhi persyaratan mutu keamanan dan manfaat, antara lain telah lulus uji Bacterial Filtration Efficiency (BFE), Partie Filtration Efficiency (PFE), dan Breathing Resistence sebagai syarat untuk mencegah masuknya dan mencegah penularan virus serta bakteri.

“Masker medis harus mempunyai efisiensi penyaringan bakteri minimal 95%,” tutur drg. Arianti.

Kemenkes, lanjutnya, selain memberikan izin edar masker juga terus melakukan pengawasan di peredaran terhadap produk-produk yang sudah memiliki izin edar. Untuk menindaklanjuti masker yang beredar ilegal, Kemenkes melakukan upaya melalui mekanisme kerjasama dengan aparat hukum.

Masker N95 dan KN95 untuk kebutuhan medis dan non medis secara fisik sulit dibedakan secara fisik. Itu baru bisa dilihat setelah dilakukan pengujian.

Oleh karena itu untuk menghindari kesalahan pemilihan masker medis maka tenaga kesehatan dan masyarakat agar membeli masker medis yang sudah memiliki izin edar alat kesehatan dari Kemenkes. Izin edar biasanya tercantum pada kemasan atau dapat juga diakses di infoalkes.kemkes.go.id.

Jika tenaga kesehatan dan masyarakat menemukan masker yang dicurigai tidak memenuhi standar agar melaporkan melalui akses Hallo Kemkes di 1500567.

Proses vaksinasi sudah berlanjut tapi masyarakat juga harus tetap menjaga protokol kesehatan salah satunya adalah tetap menggunakan masker.

“Saya menghimbau kepada seluruh tenaga kesehatan dan juga masyarakat untuk cermat memilih masker dalam menjaga diri dari penularan COVID-19. Jangan hanya tergiur dengan model atau apapun yang penting kita memilih masker yang sesuai dengan kebutuhan kita,” kata drg. Arianti.

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id (D2)

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat

drg. Widyawati, MKM
sehatnegeriku.kemkes.go.id

Lab Populer

Test-Darah-Tak-Bikin-Puasa-Batal-Baner-Artikel-12-1200x675.jpg

05/04/2021 0

Untuk mendiagnosis penyakit, tes darah adalah salah satu cara yang dibutuhkan. Mulai dari pemeriksaan kolesterol, diabetes, kanker, tumor, gangguan pada fungsi ginjal, dan gangguan pada fungsi hati, semuanya membutuhkan sampel darah untuk diperiksa. Cek darah juga bisa dikategorikan sebagai tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan untuk mengidentifikasi potensi penyakit dan memantau kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Sebelum dilakukan cek darah, seseorang diwajibkan untuk berpuasa sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh tenaga medis. Namun, bagaimana jika prosedur ini harus dilakukan selama bulan puasa? Nah, berikut ini hal yang wajib diperhatikan saat harus cek darah saat puasa:

Cek Darah Saat Puasa, Apakah Bikin Batal Puasa?

Apabila seseorang mengambil sedikit darah yang tidak menyebabkan kelemahan pada tubuhnya, maka hal ini tidak membuat puasanya batal. Pemeriksaaan ini tidak hanya untuk cek darah, tapi berlaku juga untuk mereka yang ingin melakukan donor darah.

Jika pengambilan darah itu dilakukan dalam jumlah banyak yang menyebabkan kelemahan pada tubuh, maka ada baiknya untuk membatalkan puasanya. Hal ini demi mencegah kondisi yang semakin parah, sehingga setelah melakukan cek darah dalam jumlah banyak kamu bisa segera minum atau makan sesuatu untuk mengembalikan energi tubuhmu.

Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

Pengambilan darah sebaiknya dilakukan pagi hari, antara pukul 07.00-09.00. Hal ini karena cek darah yang dilakukan di pagi hari cenderung lebih akurat untuk melihat adanya masalah kesehatan dibanding jika dilakukan pada sore atau malam hari. Nah, sebelum melakukan cek darah, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan agar hasilnya maksimal, antara lain:

  • Hindari aktivitas berat seperti berolahraga sebelum pengambilan darah. Sebab, kelelahan yang amat bisa memengaruhi hasil pemeriksaan.

  • Hindari merokok, makan permen karet, minum kafein (seperti teh dan gula), alkohol, dan obat-obatan tertentu saat sahur, karena bisa memengaruhi hasil pemeriksaan.

  • Puasa minimal 8 jam untuk pemeriksaan glukosa dan 12 jam untuk pemeriksaan trigliserida. Usahakan jangan berpuasa lebih dari 14 jam. Dan selama berpuasa, kamu tidak diperbolehkan makan dan minum, kecuali air putih. Jika sedang puasa, maka kamu bisa memanfaatkan waktu sebelum puasa untuk makan-makanan penuh gizi agar setelah cek darah kamu tidak lemas.

Puasa sebelum cek darah wajib dilakukan untuk menjaga validitas hasil pemeriksaan. Terutama untuk memastikan agar hasil pemeriksaan tidak dipengaruhi oleh konsumsi makanan terakhir dan dapat diinterpretasikan dengan benar oleh dokter. Sebab tanpa disadari, kandungan gizi dalam makanan dan minuman yang kamu konsumsi sebelum cek darah akan diserap ke dalam aliran darah dan berdampak langsung pada glukosa darah, lemak, dan zat besi sesaat setelah kamu makan.

Jika dilakukan saat puasa, berarti kamu tidak dianjurkan untuk sahur jika cek darah dilakukan pagi hari. Namun, jika dilakukan sore hari maka kamu diperbolehkan sahur. Yang terpenting adalah tidak konsumsi makanan apapun selama minimal 8 jam sebelum pemeriksaan dilakukan.

Itulah beberapa hal yang wajib kamu perhatikan saat cek darah saat puasa. Kabar baiknya, saat ini kamu sudah bisa melakukan cek darah di rumah.

———
Sumber : halodoc.com

Lab Populer

Artikel-Fatwa-MUI-12-1200x675.jpg

05/04/2021 1

JAKARTA — Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat Selasa (16/03) siang menggelar sidang pleno untuk memutuskan Fatwa Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 pada Saat Berpuasa. Ini menyusul sebulan lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Khusus terkait vaksinasi sendiri, Komisi Fatwa MUI Pusat sudah pernah mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

“Ini sebagai panduan bagi umat Islam agar dapat menjalankan puasa Ramadhan dengan memenuhi kaidah keagamaan. Pada saat yang sama, ini dapat mendukung upaya mewujudkan herd immunity melalui vaksinasi Covid-19 secara masif,” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa KH. Asrorun Niam Sholeh, Selasa (16/03) di Jakarta.

Dia menyampaikan, vaksinasi sendiri adalah pemberian vaksin dengan cara disuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut, untuk meningkatkan produksi antibodi guna menyangkal penyakit tertentu. Pada kasus vaksinasi Covid-19 ini, jenis vaksin yang digunakan dengan menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot. Model ini dikenal juga dengan istilah injeksi intramuskular.

“Vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan injeksi intramuskular (suntik) tidak membatalkan puasa. Hukum melakukan vaksinasi Covid-19 bagi umat Islam yang sedang berpuasa dengan cara injeksi intramuskular adalah boleh, sepanjang tidak menyebabkan bahaya (dharar),” ujarnya.

Dia menyampaikan, dalam fatwa tersebut, MUI merekomendasikan pemerintah melakukan vaksinasi Covid-19 pada bulan Ramadhan. Sehingga penularan Covid-19 dapat dicegah. Vaksinasi pada bulan Ramadhan tersebut juga harus memperhatikan kondisi umat Islam yang sedang berpuasa.

Agar vaksinasi tetap berlangsung lancar, fatwa tersebut, ujar Kiai Niam, juga merekomendasikan agar vaksinasi dilaksanakan pada malam hari. Jika vaksinasi dilaksanakan pada siang hari, dikhawatirkan bisa membahayakan masyarakat yang sedang berpuasa karena kondisi fisik mereka lemah.

“Umat Islam wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah Covid-19,” paparnya.

Sumber : https://mui.or.id/

Lab Populer

Template-Sosial-Promotion-08.jpg

03/04/2021 0

Baru-baru ini Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan jika beberapa golongan yang sebelumnya tidak boleh menerima vaksin virus corona, kini diperbolehkan dengan syarat. Beberapa golongan tersebut, di antaranya lansia 60 tahun ke atas, orang dengan penyakit bawaan, orang yang pernah terinfeksi virus corona, serta ibu menyusui. Hal tersebut tertulis secara resmi dalam Surat Edaran Nomor: HK.01.01/I/368/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid, dan Penyintas Covid-19 serta Sasaran Tunda pada Kamis lalu (11/2). Berikut penjelasan selengkapnya.

Beberapa Golongan Ini Diperbolehkan Melakukan Vaksin dengan Syarat

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa golongan yang sebelumnya tidak diizinkan menerima vaksin, tetapi kini diperbolehkan dengan syarat. Pemberian vaksin virus corona kepada empat golongan tersebut sudah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional. Lantas, apa saja syarat yang harus dipenuhi oleh empat golongan tersebut agar dapat melakukan vaksinasi? Ini penjabarannya:

  • Vaksin Virus Corona untuk Lansia

Penerima vaksin untuk lansia di atas 60 tahun boleh dilakukan, dengan syarat sebagai berikut:Lansia tidak merasa kesulitan untuk naik 10 anak tangga.

      1. Lansia tidak sering merasa kelelahan saat beraktivitas.
      2. Lansia tidak mengalami kesulitan berjalan kaki sejauh 100-200 meter.
      3. Lansia tidak mengalami penurunan berat badan drastis satu tahun terakhir.
      4. Lansia memiliki kurang dari lima penyakit, seperti hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, penyakit ginjal.

Jika ingin melakukan vaksinasi, lansia minimal harus memenuhi tiga syarat yang telah disebutkan.

 

  • Vaksin Virus Corona untuk Pengidap Penyakit Bawaan

Penerima vaksin untuk pengidap penyakit bawaan boleh dilakukan, dengan syarat sebagai berikut:

      1. Pada pengidap tekanan darah tinggi (hipertensi), mereka memiliki hasil cek tekanan darah di bawah 180/110 mmHg pada pemeriksaan terakhir.
      2. Pada pengidap diabetes tanpa komplikasi akut, mereka memiliki kadar gula darah yang terkontrol, serta rutin mengonsumsi obat dari dokter.
      3. Pada pengidap kanker, mereka memiliki kondisi kesehatan baik, serta tidak sedang menjalani terapi pengobatan.
  • Vaksin Virus Corona untuk Pengidap

Penerima vaksin untuk pengidap virus corona boleh dilakukan, dengan syarat mereka adalah orang yang sudah lebih dari tiga bulan terkonfirmasi positif virus corona.

  • Vaksin Virus Corona untuk Busui

Penerima vaksin untuk ibu menyusui boleh dilakukan, dengan syarat sebagai berikut:

      1. Ibu hamil memiliki suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celsius.
      2. Ibu hamil tidak melakukan kontak dengan pengidap atau suspek corona dalam waktu 14 hari terakhir.
      3. Ibu hamil tidak mengalami demam, batuk, pilek, dan sesak napas dalam tujuh hari terakhir.

Pada pengidap penyakit jantung, penyakit ginjal kronis atau orang yang menjalani cuci darah, serta pengidap penyakit hati atau liver, vaksinasi tetap tidak dapat dilakukan. Namun, vaksinasi pada pengidap epilepsi, HIV, asma, dan PPOK dapat dilakukan jika penyakit dalam keadaan terkontrol. Sedangkan bagi penerima vaksin virus corona yang juga melakukan vaksin lainnya, pemberian harus ditunda selama satu bulan agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan.

Itulah sejumlah syarat untuk melakukan vaksin virus corona pada kelompok usia rentan, ibu menyusui, seseorang dengan penyakit bawaan, serta pengidap virus corona sendiri.

Sumber : www.halodoc.com

Lab Populer

Mengenal-Antigen-Swab-Test-08-08.png

01/04/2021 0

Apa Itu Rapid Test Antigen (Swab Antigen)

🤔🤔🤔

Swab Antigen atau yang lebih dikenal dengan Rapid test antigen adalah tes diagnostik cepat Covid-19 yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antigen virus Covid-19 pada sampel yang berasal dari saluran pernapasan. Antigen akan terdeteksi ketika virus aktif bereplikasi.

😉
Itu sebabnya rapid antigen paling baik dilakukan ketika orang baru saja terinfeksi. Sebelum antibodi muncul untuk melawan virus yang masuk ke tubuh, ada peran antigen yang bertugas mempelajarinya. Keberadaan antigen itulah yang dideteksi.

Lab Populer

IMG-20170910-WA0096-e1561565863962.jpg

26/06/2019 0

Lab Populer – Dalam Rangka Meningkatkan kekompakan dan kerja tim. Telah Mengadakan Training dalam bentuk OutBond Training.

Lab Populer

CSE-1.png

26/06/2019 0

Lab Populer – Selalu berinovasi dan berekspresi melalu berbagai program dan pelatihan.

Lab Populer