Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Lansia: Jenis Tes & Manfaatnya

Memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang harus menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksakan kesehatan. Justru sebaliknya, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi semakin penting karena beberapa penyakit dan penurunan fungsi tubuh dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI menetapkan lansia sebagai kelompok usia 60 tahun ke atas. Dalam petunjuk teknis pelayanan kesehatan primer, skrining faktor risiko pada lansia mencakup antara lain pengukuran berat dan tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah, kolesterol, penilaian fungsi lansia, tingkat kemandirian, serta perilaku berisiko. Skrining ini dilakukan setidaknya satu kali dalam setahun, dengan pemeriksaan lanjutan disesuaikan dengan hasil dan kondisi masing-masing orang. Artinya, pemeriksaan kesehatan lansia bukan sekadar mencari penyakit. Pemeriksaan juga membantu melihat apakah seseorang masih mampu mempertahankan fungsi tubuh, aktivitas sehari-hari, penglihatan, pendengaran, status gizi, kesehatan mental, serta kemandiriannya. Mengapa Lansia Perlu Pemeriksaan Kesehatan Rutin? Proses penuaan menyebabkan perubahan pada berbagai sistem tubuh. Risiko mengalami penyakit kronis juga meningkat seiring bertambahnya usia. WHO menjelaskan bahwa pada usia lanjut dapat terjadi penurunan kapasitas fisik dan mental, termasuk masalah mobilitas, penglihatan, pendengaran, nutrisi, fungsi kognitif, gejala depresi, inkontinensia, hingga risiko jatuh. Masalahnya, tidak semua kondisi tersebut langsung terasa. Tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan kolesterol, penyakit ginjal, maupun beberapa jenis kanker dapat berkembang tanpa gejala yang khas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan faktor risiko atau kelainan lebih awal, ketika penanganan masih dapat dilakukan sebelum masalah berkembang lebih jauh. National Institute on Aging (NIA) juga menyarankan orang lanjut usia melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Pemeriksaan dan skrining dapat membantu menemukan kondisi seperti diabetes, kanker, serta penyakit kardiovaskular yang mungkin belum menimbulkan gejala. Dengan kata lain, merasa sehat bukan selalu berarti semua kondisi tubuh berada dalam keadaan optimal. Tubuh manusia, sayangnya, tidak menyediakan dashboard seperti mobil yang memberi tahu bahwa gula darah mulai naik atau pembuluh darah sedang bermasalah. Jenis Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Lansia Pemeriksaan yang dibutuhkan setiap lansia tidak selalu sama. Dokter atau tenaga kesehatan dapat menyesuaikannya berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, obat yang dikonsumsi, faktor risiko, serta hasil pemeriksaan sebelumnya. Namun, beberapa aspek berikut umumnya penting diperhatikan. 1. Pemeriksaan Tekanan Darah Tekanan darah merupakan salah satu pemeriksaan dasar yang penting pada lansia. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Karena tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas, pengukuran secara berkala dapat membantu mendeteksinya. Dalam pelayanan skrining lansia di Indonesia, pemeriksaan tekanan darah termasuk bagian dari skrining faktor risiko yang dilakukan secara berkala. Hasil pengukuran tidak sebaiknya ditafsirkan hanya dari satu kali pemeriksaan. Dokter dapat mempertimbangkan pengukuran berulang serta kondisi kesehatan secara keseluruhan sebelum menentukan apakah seseorang mengalami hipertensi dan membutuhkan penanganan. 2. Pemeriksaan Gula Darah Risiko diabetes meningkat pada berbagai kelompok usia, termasuk lansia. Pemeriksaan gula darah dapat membantu mendeteksi kadar glukosa yang terlalu tinggi dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kementerian Kesehatan memasukkan pemeriksaan gula darah sebagai salah satu bagian skrining faktor risiko pada lansia. Pemeriksaan menjadi semakin penting bagi lansia yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga diabetes, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, atau pernah memiliki hasil gula darah yang tinggi. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kelainan, dokter dapat menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan. Jadi, hasil laboratorium bukan vonis yang dibaca sambil panik dari layar ponsel. Interpretasinya tetap perlu melihat kondisi pasien secara keseluruhan. 3. Pemeriksaan Kolesterol Kolesterol merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah dan risiko penyakit kardiovaskular. Kementerian Kesehatan memasukkan pemeriksaan kolesterol dalam skrining faktor risiko pada usia lanjut. Pemeriksaan kolesterol biasanya dapat membantu dokter menilai profil lipid dan menentukan apakah seseorang memiliki faktor risiko yang perlu ditangani melalui perubahan pola makan, aktivitas fisik, obat-obatan, atau kombinasi beberapa pendekatan. Hasil kolesterol juga sebaiknya tidak dilihat secara terpisah. Dokter dapat mempertimbangkan tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, usia, riwayat penyakit jantung, dan faktor risiko lainnya. 4. Pemeriksaan Fungsi Ginjal Fungsi ginjal perlu diperhatikan terutama pada lansia yang memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau faktor risiko lainnya. Gangguan fungsi ginjal dapat berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, seseorang bahkan dapat tidak merasakan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan laboratorium tertentu dapat digunakan untuk membantu menilai fungsi ginjal. Jenis pemeriksaan yang diperlukan dapat berbeda-beda tergantung kondisi pasien dan penilaian dokter. Dalam program pemeriksaan kesehatan lansia yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, fungsi ginjal termasuk salah satu aspek yang dapat diperiksa berdasarkan kebutuhan dan faktor risiko. 5. Pemeriksaan Mata dan Penglihatan Gangguan penglihatan dapat berdampak langsung pada kemandirian lansia. Penglihatan yang menurun dapat membuat seseorang kesulitan membaca, berjalan, mengenali lingkungan sekitar, atau melakukan aktivitas sehari-hari. Lebih jauh lagi, gangguan penglihatan dapat meningkatkan risiko jatuh. Karena itu, skrining mata dan penglihatan merupakan bagian dari pemeriksaan kesehatan lansia. Petunjuk teknis Kementerian Kesehatan mencakup pemeriksaan keluhan penglihatan dan pemeriksaan ketajaman penglihatan dalam skrining lansia. Jika ditemukan gangguan, pasien dapat diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan mata lebih lanjut. 6. Pemeriksaan Pendengaran Penurunan pendengaran sering berkembang perlahan dan kadang dianggap sebagai bagian yang tidak perlu diperiksa dari proses penuaan. Padahal, gangguan pendengaran dapat memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Lansia dapat mengalami kesulitan mengikuti percakapan, terutama dalam lingkungan yang ramai. WHO memasukkan gangguan sensorik seperti kehilangan pendengaran dan gangguan penglihatan sebagai bagian dari aspek kapasitas intrinsik yang perlu diperhatikan dalam pendekatan kesehatan lansia. Pemeriksaan pendengaran dapat membantu mengetahui apakah terdapat gangguan dan apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut. 7. Penilaian Status Gizi Perubahan nafsu makan, masalah gigi, kesulitan mengunyah atau menelan, perubahan berat badan, maupun penyakit tertentu dapat memengaruhi status gizi lansia. Karena itu, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, dan ukuran tubuh tertentu dapat menjadi bagian dari penilaian kesehatan. Kementerian Kesehatan memasukkan skrining status gizi dalam pemeriksaan lansia. Status gizi yang baik penting untuk mempertahankan kekuatan otot, daya tahan tubuh, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. 8. Pemeriksaan Fungsi Fisik dan Kemandirian Pemeriksaan lansia seharusnya tidak hanya bertanya, “Ada penyakit apa?” Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: Seberapa mandiri seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari? WHO menggunakan pendekatan yang lebih luas melalui Integrated Care for Older People atau ICOPE. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga pada kemampuan fisik dan mental, mobilitas, nutrisi, kognisi, penglihatan,

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Lansia: Jenis Tes & Manfaatnya Read More »