Pemeriksaan Kanker Payudara, Dari SADARI Hingga USG
Kanker payudara tidak selalu menimbulkan keluhan pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat dan tidak menemukan benjolan, sementara perubahan pada jaringan payudara sebenarnya sudah mulai terjadi. Karena itu, mengenali kondisi payudara dan melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan menjadi bagian penting dari deteksi dini. WHO juga menekankan pentingnya mengenali perubahan pada payudara dan mencari pertolongan medis ketika ditemukan sesuatu yang tidak biasa. Pemeriksaan kanker payudara sendiri tidak hanya berarti mamografi. Ada beberapa tahap, mulai dari mengenali perubahan pada payudara melalui SADARI, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan, hingga pemeriksaan pencitraan seperti USG payudara dan mamografi. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda dan tidak selalu digunakan pada semua orang. Mengenal SADARI dan tanda perubahan pada payudara SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dilakukan untuk membantu seseorang mengenali kondisi payudaranya sendiri. Tujuan utamanya adalah mengetahui apa yang normal bagi tubuh dan menyadari apabila muncul perubahan baru. WHO menyebut pemeriksaan mandiri sebagai bagian dari kesadaran terhadap kesehatan payudara, sehingga perubahan yang tidak biasa dapat segera dikonsultasikan. Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan SADARI secara berkala sebagai bagian dari deteksi dini dan menyarankan pemeriksaan sekitar hari ke-7 hingga ke-10 sejak hari pertama menstruasi. Pada perempuan yang sudah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan. Saat melakukan SADARI, perhatikan perubahan seperti: Benjolan atau bagian payudara yang terasa menebal atau mengeras. Perubahan ukuran atau bentuk payudara. Kulit yang berkerut, tertarik ke dalam, kemerahan, atau tampak seperti kulit jeruk. Perubahan bentuk atau posisi puting. Puting tertarik ke dalam yang sebelumnya tidak demikian. Cairan tidak normal dari puting, terutama cairan berdarah. Benjolan atau pembengkakan di area ketiak. Tidak semua benjolan berarti kanker. Banyak perubahan pada payudara disebabkan kondisi jinak. Namun, perubahan baru tetap perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat. SADANIS: pemeriksaan oleh tenaga kesehatan Ketika ditemukan perubahan pada payudara, langkah berikutnya dapat berupa SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis). Pemeriksaan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menilai kondisi payudara dan area sekitarnya secara lebih sistematis. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memasukkan SADANIS sebagai salah satu metode deteksi dini kanker payudara di fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam pemeriksaan tersebut, tenaga kesehatan dapat menilai adanya benjolan atau perubahan lain yang perlu ditindaklanjuti. Pemeriksaan klinis tidak sama dengan diagnosis kanker. Bila ditemukan kelainan, dokter dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan seperti USG, mamografi, atau pemeriksaan lainnya. Disclaimer! Artikel ini ditujukan semata-mata untuk informasi dan edukasi kesehatan umum. Artikel ini bukan merupakan pengganti diagnosis atau nasihat medis langsung dari dokter spesialis. Kapan perlu USG payudara? USG payudara menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran jaringan di dalam payudara. Pemeriksaan ini sering digunakan untuk mengevaluasi benjolan atau kelainan yang ditemukan saat pemeriksaan fisik maupun pada pemeriksaan pencitraan sebelumnya. USG memiliki kegunaan khusus dalam kondisi tertentu, termasuk ketika dokter ingin mengetahui karakter suatu benjolan. Pemeriksaan ini juga dapat membantu membedakan beberapa jenis jaringan atau melihat apakah suatu benjolan lebih menyerupai kista berisi cairan atau massa padat. Pada payudara dengan jaringan yang padat, USG dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan. Namun, USG tidak otomatis menggantikan mamografi untuk skrining kanker payudara pada populasi umum. NCI menjelaskan bahwa USG lebih banyak digunakan sebagai evaluasi diagnostik atau pemeriksaan tambahan pada kondisi tertentu. Apa itu mamografi? Mamografi adalah pemeriksaan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah untuk menghasilkan gambar jaringan payudara. Pemeriksaan ini dapat menemukan beberapa perubahan, termasuk tumor atau kalsifikasi kecil, bahkan sebelum muncul gejala yang bisa dirasakan. Karena itu, mamografi merupakan pemeriksaan pencitraan utama yang digunakan dalam skrining kanker payudara pada banyak kelompok perempuan. Selama pemeriksaan, payudara ditempatkan di antara dua bidang dan ditekan secara singkat agar jaringan dapat terlihat lebih jelas. Tekanan tersebut dapat terasa tidak nyaman, tetapi prosedurnya biasanya berlangsung relatif singkat. Perlu dibedakan antara screening mammogram dan diagnostic mammogram. Mamografi skrining dilakukan pada orang yang belum memiliki gejala untuk mencari tanda kanker sejak dini. Sementara itu, mamografi diagnostik digunakan untuk mengevaluasi keluhan atau perubahan yang sudah ditemukan sebelumnya. SADARI, USG, atau mamografi: apa bedanya? Pemeriksaan Fungsi utama Kapan digunakan? SADARI Mengenali perubahan pada payudara Dilakukan secara mandiri sebagai bagian dari kesadaran kesehatan payudara SADANIS Pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan Saat membutuhkan evaluasi klinis USG payudara Melihat struktur jaringan dan mengevaluasi kelainan Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis atau kebutuhan medis tertentu Mamografi Mendeteksi perubahan pada jaringan payudara menggunakan sinar-X Terutama untuk skrining sesuai usia dan tingkat risiko Artinya, pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bukan sekadar pilihan “mana yang paling bagus”. Kebutuhannya berbeda dan dalam situasi tertentu dapat digunakan secara berurutan atau bersama-sama. Rekomendasi Artikel Terkait Kanker Payudara, Mengenali dan Memahami Bahaya Tersembunyi Kanker Paling Umum di Indonesia: Risiko & Skrining Cek Lab Rutin: Kapan Melakukan Meski Terasa Sehat? Siapa yang perlu menjalani mamografi? Frekuensi dan usia mulai skrining tidak sepenuhnya sama di setiap pedoman. Contohnya, USPSTF merekomendasikan mamografi setiap dua tahun untuk perempuan usia 40–74 tahun dengan risiko rata-rata. Sementara itu, American Cancer Society (ACS) memberikan rekomendasi yang berbeda: perempuan usia 40–44 tahun dapat memilih mulai skrining tahunan, usia 45–54 tahun dianjurkan menjalani mamografi setiap tahun, dan usia 55 tahun ke atas dapat beralih menjadi setiap dua tahun atau tetap setiap tahun. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keputusan skrining perlu mempertimbangkan usia, risiko pribadi, riwayat keluarga, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta pedoman yang digunakan oleh dokter dan fasilitas kesehatan. Pada orang yang memiliki risiko tinggi, misalnya karena faktor genetik tertentu atau riwayat medis tertentu, dokter dapat merekomendasikan strategi skrining yang berbeda. ACS, misalnya, merekomendasikan mamografi dan MRI payudara tahunan untuk kelompok perempuan tertentu dengan risiko tinggi. Jangan menunggu sampai muncul benjolan Salah satu kekeliruan yang cukup umum adalah menganggap pemeriksaan payudara baru diperlukan ketika sudah ada benjolan atau rasa sakit. Padahal, kanker payudara pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Inilah alasan pemeriksaan skrining diperlukan pada kelompok yang memang memenuhi kriteria. Sebaliknya, bila sudah muncul perubahan yang mencurigakan, pemeriksaannya bukan lagi sekadar skrining rutin. Dokter dapat mengarahkan pasien ke pemeriksaan diagnostik untuk mencari penyebab perubahan tersebut. Dan satu hal penting: hasil USG atau mamografi yang abnormal belum otomatis berarti kanker. Pemeriksaan pencitraan dapat menemukan berbagai kondisi jinak maupun kelainan yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan biopsi. Menurut NCI, biopsi adalah metode yang dapat memastikan diagnosis kanker payudara melalui pemeriksaan jaringan oleh ahli patologi. Deteksi dini dimulai
Pemeriksaan Kanker Payudara, Dari SADARI Hingga USG Read More »
