Tips Sehat

Gangguan Ginjal Kronis: Tanda-tanda Awal dan Kapan Perlu Tes Lab

Gagal ginjal kronis (GGK) sering berkembang secara diam-diam. Menurut Alodokter, gejala awalnya ringan dan mudah terlewat, seperti lelah terus-menerus, susah tidur (insomnia), mual, gatal-gatal pada kulit, bengkak di kaki/tangan, hingga sesak napas. Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan juga termasuk tanda ginjal bermasalah. Saat ginjal sudah terganggu, tubuh tidak mampu membuang racun dan kelebihan cairan secara efektif, sehingga muncullah keluhan-keluhan tersebut. Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk memastikan kondisi ginjal. Spesialis ginjal menyarankan tes darah untuk mengukur kreatinin serum dan menghitung eGFR (laju filtrasi glomerulus). Hasil eGFR di bawah 60 ml/menit/1,73m² umumnya menandakan gangguan fungsi ginjal. Tes urine juga diperlukan: rasio albumin-kreatinin (uACR) ≥30 mg/g menandakan albuminuria, ciri khas kerusakan ginjal. Dokter juga biasanya memantau tekanan darah dan gula darah secara rutin karena hipertensi dan diabetes merupakan faktor risiko GGK. Menurut dokter, diagnosa dini sangat krusial agar penanganan bisa dilakukan lebih awal, memperlambat kerusakan ginjal. Jadi, bila Anda merasakan gejala di atas atau berisiko (misalnya punya riwayat diabetes/hipertensi), segera cek laboratorium ginjal. Sumber: Alodokter [alodokter.com] National Kidney Foundation [kidney.org] Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan sumber medis dan rekomendasi ahli untuk pembaca umum. Info di atas tidak menggantikan nasihat dokter.

Gangguan Ginjal Kronis: Tanda-tanda Awal dan Kapan Perlu Tes Lab Read More »

Kesehatan Paru-paru: Tips Mencegah Penurunan Fungsi Paru saat Polusi Tinggi

Paparan polusi udara dapat merusak kesehatan paru secara bertahap. WHO menegaskan polusi udara berkaitan erat dengan penyakit stroke, jantung, PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), kanker paru, hingga pneumonia. WHO juga mencatat sekitar 99% populasi dunia tinggal di area dengan kualitas udara di atas batas aman. Menghirup udara tercemar memaksa paru bekerja ekstra membersihkan zat berbahaya, sehingga fungsi paru bisa menurun cepat. Menurut American College of Sports Medicine (ACSM), paru-paru unik karena langsung terpapar polutan tanpa adaptasi positif. ACSM menyarankan orang menghindari berolahraga di luar saat kualitas udara buruk. Oleh karena itu, selalu cek nilai Air Quality Index (AQI) harian dan batasi aktivitas di luar ruangan jika polusi tinggi. Tips melindungi paru saat polusi tinggi: Periksa kualitas udara: Gunakan aplikasi atau situs pemantau AQI. Kurangi aktivitas luar saat polusi buruk. Pakai masker: Jika terpaksa ke luar, gunakan masker pelindung (N95) untuk menyaring partikel polutan. Gunakan air purifier: Alat penyaring udara dengan filter HEPA dapat mengurangi partikel debu/asap di dalam rumah. Hentikan merokok: Hindari rokok di dalam rumah, karena asap rokok sangat meningkatkan risiko penyakit paru kronis. Konsumsi antioksidan: Perbanyak buah dan sayur kaya vitamin C, E, atau seng untuk membantu melawan radikal bebas polusi. Selain itu, pastikan ventilasi rumah baik (buka jendela saat udara luar bersih). Alodokter menyebut penggunaan air purifier bisa juga menurunkan risiko kambuhnya asma dengan menyaring debu dan alergen. Dengan langkah sederhana ini, Anda membantu menjaga fungsi paru tetap optimal meski terpapar polusi. Sumber: ACSM [acsm.org] Alodokter [alodokter.com]

Kesehatan Paru-paru: Tips Mencegah Penurunan Fungsi Paru saat Polusi Tinggi Read More »

Kesehatan Mental dan Imun: Bagaimana Depresi Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

Depresi bukan hanya masalah suasana hati – kondisi ini juga dapat berdampak buruk pada sistem imun. Saat seseorang mengalami depresi kronis, kadar hormon stres seperti kortisol meningkat dan memicu proses peradangan. Menurut American Psychological Association, penelitian panjang 10 tahun menunjukkan depresi dapat meningkatkan kadar kortisol dan melemahkan sistem kekebalan tubuh secara signifikan. Hasil riset di Ohio State University juga menemukan orang dengan depresi berat memiliki kadar interleukin-6 (IL-6, sitokin peradangan) lebih tinggi, yang membuat tubuh lebih rentan infeksi. Dikutip dari psikolog Janice Kiecolt-Glaser, PhD, depresi memicu “hormon stres” terus bekerja sehingga memicu respons kekebalan tubuh yang tidak seimbang. Kondisi stres berkepanjangan akibat depresi ini juga terlihat mempengaruhi sel-sel darah putih dalam melawan kuman. Hasil tinjauan IDN Times bahkan menyebut “stres kronis melemahkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan kadar limfosit” , yang artinya kekebalan menjadi kurang optimal. Sementara itu, mitra Harvard Redoxon menjelaskan bahwa stres psikologis kronis dapat menaikkan produksi kortisol berlebih, akhirnya membuat sistem imun jadi rentan terhadap penyakit. Dalam praktik sehari-hari, gejala depresi seperti kecemasan, gangguan tidur, dan isolasi sosial dapat memperparah penurunan imunitas. Sebaliknya, menjaga kesehatan mental justru membantu tubuh lebih tangguh. Menurut dr. Reza, psikolog klinis, terapi dan dukungan sosial dapat membantu meredakan stres berlebihan dan mendukung produksi antibodi normal. Meski tidak ada obat ajaib, gaya hidup sehat (istirahat cukup, olahraga ringan, dan pola makan bergizi) terbukti membantu meredakan gejala depresi dan menyeimbangkan hormon stres. Jadi, siapa sangka menjaga kesehatan jiwa juga menjaga pertahanan tubuh! Sumber: Kilk Dokter [klikdokter.com] IDNTIMES [idntimes.com] Redoxon [redoxon.co.id]

Kesehatan Mental dan Imun: Bagaimana Depresi Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Read More »

Sindrom Metabolik: Kombinasi Obesitas, Gula Darah, dan Tekanan Darah Tinggi

Sindrom metabolik adalah satu paket gangguan kesehatan yang sering terjadi bersamaan. Jika seseorang mengalami obesitas pinggang, kadar gula darah tinggi, kolesterol tidak normal, dan tekanan darah tinggi, kondisi ini disebut sindrom metabolik. Menurut dr. Nanang Soebijanto, Sp.PD dari RS Pondok Indah, sindrom ini didefinisikan oleh sekurang-kurangnya tiga dari empat kelainan metabolik tersebut. Orang dengan sindrom metabolik punya risiko jantung koroner dan stroke hingga 3 kali lebih besar, serta risiko diabetes tipe 2 sekitar 5 kali lebih tinggi dibanding orang sehat. Sebagian besar faktor penyebab bersumber dari gaya hidup: pola makan tinggi gula, lemak tidak sehat, dan kurang bergerak. Kadar insulin yang terus tinggi bisa memicu peningkatan lemak pinggang dan kolesterol LDL, sementara HDL (kolesterol baik) biasanya menurun. Berdasarkan Alodokter, orang dengan sindrom metabolik dianjurkan mengubah gaya hidup segera. Dokter menyarankan diet sehat tinggi serat (sayuran, buah-buahan), rutin olahraga, serta mengontrol berat badan. Berhenti merokok dan mengurangi stres juga penting. Secara klinis, dokter akan mengecek tekanan darah, gula puasa, serta profil lipid (HDL, LDL, trigliserida) secara berkala. Bila ketiga atau lebih indikator negatif terlihat, diagnosis sindrom metabolik dapat ditegakkan. Menurut dokter Endokrinologi, deteksi dini sangat dianjurkan karena komplikasi kardiometabolik bisa dicegah lewat intervensi cepat. Sebagai catatan, gangguan ini sering disebut silent killer karena gejalanya samar. Hanya dengan pemeriksaan berkala – misalnya saat medical check-up – kondisi awal sudah bisa diketahui dan ditangani. Sumber: RS Pondok Indah [rspondokindah.co.id] Alodekter [alodokter.com]

Sindrom Metabolik: Kombinasi Obesitas, Gula Darah, dan Tekanan Darah Tinggi Read More »

Kesehatan Gigi dan Kanker: Hubungan Antara Infeksi Gigi Kronis dan Risiko Kanker

Kesehatan gigi yang buruk ternyata bisa berkaitan dengan risiko kanker tertentu. Sebagai contoh, Dr. Vijay V. Haribhakti – ahli onkologi dari Ahmedabad – menyebut kondisi gigi atau gusi yang “buruk” dapat menimbulkan kanker gusi dan rahang. Artinya, infeksi yang tidak sembuh di rongga mulut perlu diwaspadai. Tahi lalat atau luka pada mulut yang terus berdarah atau berubah ukuran sebaiknya tidak diabaikan. Menurut Antara News, saat ada benjolan atau luka berwarna merah-abu pada gusi yang tidak kunjung pulih, segera periksakan ke dokter. Penelitian internasional juga mulai menemukan pola serupa. Misalnya, sebagai dilansir HonestDocs, sebuah studi dalam Cancer Epidemiology menunjukkan wanita pascamenopause dengan penyakit gusi kronis memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Meski penelitiannya masih terus dilanjutkan, kaitan ini patut diwaspadai: radikal bebas dan bakteri dari infeksi gusi dapat memicu mutasi sel yang memicu kanker. Karenanya, ahli kesehatan mulut menyarankan rutinitas menjaga kebersihan mulut sebagai pencegahan awal. Perawatan gigi dan gusi secara rutin (menyikat dua kali sehari, flossing, serta kontrol ke dokter gigi tiap 6 bulan) membantu mencegah peradangan kronis. Menurut dokter gigi, tindakan cepat untuk mengatasi abses atau noda hitam di gusi bisa menghindari komplikasi yang lebih serius. Dengan kata lain, menjaga kesehatan gigi bukan hanya demi senyum cantik, tapi juga pencegahan penyakit kanker tertentu. Sumber: ANTARA News [antaranews.com] honeatdocs [honestdocs.id]

Kesehatan Gigi dan Kanker: Hubungan Antara Infeksi Gigi Kronis dan Risiko Kanker Read More »

Bagaimana Tes Laboratorium Membantu Mendiagnosis Penyakit Autoimun Sejak Awal

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Deteksi dini lewat tes laboratorium sangat penting agar penanganan bisa segera dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi tes ANA (Antinuclear Antibody) untuk lupus dan penyakit autoimun sistemik lain, C-Reactive Protein (CRP) dan LED (Laju Endap Darah) sebagai penanda peradangan, serta faktor reumatoid (RF) untuk rheumatoid arthritis. Hasil abnormal pada tes-tes tersebut bisa menjadi petunjuk awal bahwa terjadi reaksi autoimun. Menurut HelloSehat, tes ANA sering direkomendasikan jika ada gejala khas seperti ruam wajah “kupu-kupu” atau nyeri sendi berulang. Tes hormon tiroid (TSH), gula darah (HbA1c), dan vitamin D juga dapat diperiksa untuk menyingkirkan kondisi penyerta yang sering muncul bersamaan dengan autoimun. Semua tes ini diambil sampel darahnya dan hasilnya dapat diperiksa oleh dokter spesialis penyakit dalam atau imunologi. Hasil dari tes laboratorium memberikan “peta” risiko untuk dokter. Misalnya, jika ANA atau RF tinggi, dokter bisa lebih waspada terhadap penyakit lupus atau arthritis dan meresepkan terapi imunomodulator lebih cepat. Kata ahli reumatologi, pemeriksaan lab secara teratur membantu mengarahkan diagnosis, terutama saat gejala belum jelas. Dengan dukungan data lab ini, penanganan penyakit autoimun bisa dilakukan saat masih ringan, sehingga komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan. Sumber: Alodokter [alodokter.com] Hellosehat [hellosehat.com]

Bagaimana Tes Laboratorium Membantu Mendiagnosis Penyakit Autoimun Sejak Awal Read More »

Dampak Mikroplastik pada Tubuh Manusia dan Apa yang Diketahui Saat Ini

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil yang kini banyak ditemukan di lingkungan dan makanan kita. Saat masuk ke tubuh, partikel ini dapat memicu reaksi berbahaya. Misalnya, situs Alodokter mencatat bahwa mikroplastik membawa bahan kimia seperti BPA dan pestisida ke dalam tubuh, yang dapat mengganggu sistem endokrin (hormon) dan metabolisme tubuh. Akibatnya, paparan jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, gangguan hormonal, hingga masalah reproduksi. Informasi dari Kementerian Kesehatan Indonesia (AyoSehat) menyebutkan, mikroplastik yang tertelan atau terhirup dapat memicu peradangan pada organ tubuh. Partikel kecil itu mungkin menempel di organ seperti hati, ginjal, dan usus, “memicu reaksi peradangan yang pada akhirnya dapat menyebabkan tumor atau kanker”. WWF Indonesia juga mengingatkan mikroplastik bisa merusak sel-sel tubuh dan gangguan hormon – misalnya secara potensi memicu naiknya kadar hormon stres dan peradangan kronis. Meski penelitian masih terus berlangsung, tingkat kewaspadaan perlu ditingkatkan. Cara pencegahan sederhana adalah mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, memilih makanan segar (bukan makanan kemasan), dan memerhatikan kualitas udara sekitar. Kata ahli lingkungan, batas aman pasti paparan mikroplastik pada manusia belum ditetapkan, jadi yang terbaik adalah meminimalkan paparan. Dengan membatasi penggunaan plastik dan menjaga kebersihan, kita membantu tubuh tidak kelebihan “benda asing” ini. Sumber: Alodokter [alodokter.com] Kemenkes [ayosehat.kemkes.go.id]

Dampak Mikroplastik pada Tubuh Manusia dan Apa yang Diketahui Saat Ini Read More »

Kesehatan Hormon Wanita, Siklus Menstruasi, Hormon & Tes Laboratorium

Siklus menstruasi wanita diatur oleh hormon yang kompleks. Menurut Alodokter, siklus menstruasi normal berlangsung 21–35 hari dengan fase menstruasi, pra-ovulasi/ovulasi, dan pramenstruasi. Hormon utama yang berperan antara lain estrogen, progesteron, FSH (follicle stimulating hormone), dan LH (luteinizing hormone). Estrogen diproduksi ovarium untuk mematangkan folikel dan membangun lapisan rahim, sedangkan LH memicu pelepasan sel telur (ovulasi). Progesteron selanjutnya mempersiapkan rahim untuk kehamilan. Jika tidak terjadi kehamilan, progesteron-menurun menyebabkan menstruasi. Untuk mengawasi kesehatan hormonal, banyak tes laboratorium tersedia. Menurut sumber Alodokter, beberapa tes yang umum adalah: FSH dan LH, untuk memeriksa fungsi kelenjar hipofisis dan ovulasi; estradiol (estrogen), untuk mengevaluasi fungsi ovarium dan cadangan telur; serta AMH (Anti-Müllerian Hormone), untuk mengukur jumlah telur tersisa di ovarium. Selain itu, dokter mungkin memeriksa TSH (hormon tiroid) dan Vitamin D karena keduanya memengaruhi kesuburan dan siklus menstruasi. Beberapa pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai indikasi, misalnya kadar progesteron pada fase tertentu untuk memastikan ovulasi. Semua tes ini diambil sampel darahnya. Hasil laboratorium membantu dokter menilai apakah hormon bekerja normal. Bila ada ketidakseimbangan (misalnya FSH/LH tinggi pada wanita muda), dapat terdeteksi adanya masalah seperti sindrom ovarium polikistik atau awal menopause dini. Sebagai catatan, Menurut dr. Andri, pemeriksaan rutin hormon ini sangat dianjurkan bagi wanita yang menunda kehamilan atau mengalami siklus tidak teratur, agar solusi dapat diterapkan lebih awal. Sumber: Alodokter – Fase Siklus Menstruasi [alodokter.com] Alodokter – Mengenal Berbagai Tes Infertilitas Beserta Manfaatnya[alodokter.com]

Kesehatan Hormon Wanita, Siklus Menstruasi, Hormon & Tes Laboratorium Read More »

Kesehatan Anak, Tes Tumbuh Kembang yang Disarankan dalam MCU Anak

Medical check-up (MCU) anak perlu disesuaikan dengan usia. Penting sekali memantau tumbuh kembang sejak dini. Menurut standar rumah sakit anak terkemuka, beberapa pemeriksaan berikut sebaiknya dilakukan saat MCU: Pemeriksaan Fisik dan Antropometri: Menilai berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta grafik pertumbuhan. Ini untuk memastikan anak tumbuh sesuai kurva usianya. Pemeriksaan Tumbuh Kembang oleh Dokter Anak: Dokter akan mengecek milestones perkembangan (motorik, bicara, sosial). Deteksi dini hambatan seperti autisme atau keterlambatan bicara penting dilakukan. Pemeriksaan Mata dan Pendengaran: Anak usia 5–6 tahun atau lebih harus dites penglihatan (visus) dan buta warna, serta uji pendengaran (audiometri). Gangguan kecil pun dapat memengaruhi belajar di sekolah. Laboratorium: Tes darah lengkap (termasuk golongan darah) dan urin lengkap. Tes darah berguna mendeteksi anemia, infeksi, atau penyakit metabolik terselubung. Sedangkan urinalisis bisa mengungkap masalah ginjal atau diabetes ringan secara tak terduga. Paket MCU anak sering mencakup audiometri dan pemeriksaan tumbuh kembang seperti yang ditawarkan RSPIK: audiometri, urin lengkap, darah lengkap, serta pemeriksaan mata dan gigi. Selain itu, vaksinasi rutin harus selalu diperbarui sesuai jadwal agar kekebalan tubuh optimal. Menjaga asupan gizi (termasuk vitamin D dan zat besi) juga ditekankan dokter agar tumbuh kembang anak tidak terhambat. Kata dokter anak, semakin awal kelainan kecil terdeteksi (misalnya gangguan pendengaran ringan atau anemia latensius), tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat. MCU teratur pada anak usia sekolah (misalnya setiap tahun) adalah kunci agar segala masalah kesehatan dapat diketahui dan ditangani segera, sebelum memengaruhi perkembangan mereka. Sumber: RS Pantai Indah Kapuk – [pikhospital.co.id]

Kesehatan Anak, Tes Tumbuh Kembang yang Disarankan dalam MCU Anak Read More »

Kolesterol Baik vs Jahat, Pentingnya HDL dan LDL dalam Profil Lipid

HDL dan LDL: Kolesterol Baik vs Jahat Kolesterol adalah lemak penting dalam tubuh yang diperlukan untuk membangun sel dan hormon. Namun jika kadarnya terlalu tinggi terutama jenis LDL, kolesterol bisa berbahaya. Tubuh mengangkut kolesterol melalui protein–lemak (lipoprotein) utama yaitu HDL dan LDL. LDL (Low-Density Lipoprotein) sering disebut kolesterol “jahat” karena jika kadarnya tinggi, ia menumpuk di dinding arteri dan membentuk plak, sehingga mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Sebaliknya HDL (High-Density Lipoprotein) dikenal sebagai kolesterol “baik”, karena fungsinya membawa kolesterol berlebih dari pembuluh darah kembali ke hati untuk diproses dan dibuang. HDl ibarat sapu atau pembersih yang membersihkan timbunan lemak di arteri, sedangkan LDL seperti timbunan lemak yang menyumbat pipa. Itulah mengapa menjaga LDL tetap rendah dan HDL tinggi sangat penting untuk kesehatan jantung. Aspek HDL (Kolesterol Baik) LDL (Kolesterol Jahat) Peran Utama Membawa kolesterol dari pembuluh darah ke hati untuk diolah. Menumpuk kolesterol di dinding arteri, membentuk plak. Analogi “Pembersih” pembuluh darah (membersihkan lemak jahat). “Penumpuk lemak” di dinding arteri (menyumbat aliran darah). Kisaran Normal (dewasa) ≥ 60 mg/dL (semakin tinggi HDL semakin baik). < 100 mg/dL (ideal); < 70 mg/dL jika risiko jantung tinggi. Risiko Penyakit Jantung HDL tinggi melindungi jantung karena mencegah penumpukan lemak. LDL tinggi dapat mempercepat aterosklerosis dan serangan jantung. Kadar Kolesterol Normal dan Risiko Jantung Menurut Heartology, kadar LDL idealnya di bawah 100 mg/dL pada orang sehat. Semakin rendah LDL, semakin kecil risiko plak menyumbat arteri. Sementara itu, HDL ≥ 60 mg/dL dianggap optimal untuk melindungi jantung. Jika HDL di bawah batas itu (misalnya <40 mg/dL pada pria atau <50 mg/dL pada wanita), perlindungan jantung menurun. Demikian juga, LDL yang tinggi adalah faktor risiko terkuat penyakit kardiovaskular. American Heart Association menyebut LDL tinggi sebagai penyebab utama terbentuknya plak yang menyumbat arteri, sedangkan HDL yang cukup tinggi membantu “menyapu bersih” kolesterol berlebih dari pembuluh darah. Ketidakseimbangan ini berujung pada aterosklerosis: penumpukan plak (kolesterol, kalsium, dan sel) di arteri. Plak yang besar dapat mempersempit arteri sehingga aliran darah ke jantung dan otak terhambat. Jika plak pecah, bisa memicu penggumpalan darah dan serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, selain mengecek tekanan darah dan gula, pemeriksaan profil lipid (mengukur kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida) secara rutin sangat disarankan. Mendapatkan hasil ini lebih awal membantu dokter dan kita mengendalikan risiko sebelum terjadi komplikasi serius. Menjaga Keseimbangan Kolesterol Pola hidup sehat adalah kunci mengendalikan LDL dan menaikkan HDL. Berikut beberapa tips praktis yang bisa diterapkan remaja dan dewasa: Makan Sehat: Pilih makanan tinggi serat (buah, sayur, biji-bijian utuh) dan lemak tak jenuh (minyak zaitun, ikan berlemak, kacang-kacangan). Kurangi lemak jenuh dan trans (gorengan, santan kental, daging berlemak) yang meningkatkan LDL. Serat larut membantu menurunkan LDL dengan mengikat kolesterol di usus. Olahraga Teratur: Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari (jalan cepat, lari, renang, bersepeda). Olahraga menaikkan HDL dan menurunkan LDL serta trigliserida. Cukup jalan kaki rutin atau naik turun tangga bisa memberi manfaat nyata. Jaga Berat Badan Ideal: Obesitas, terutama di pinggang, cenderung meningkatkan LDL dan menurunkan HDL. Menurunkan berat badan 5–10% saja dapat memperbaiki profil lipid dan mengurangi risiko kardiovaskular. Hindari Rokok dan Alkohol: Merokok menurunkan HDL secara signifikan dan merusak dinding pembuluh darah, membuat kolesterol jahat lebih mudah menempel. Batasi alkohol berlebih karena dapat meningkatkan trigliserida. Rutin Cek Profil Lipid: Setiap orang dewasa disarankan melakukan pemeriksaan kolesterol total dan profil lipid secara berkala. Misalnya, usia 20 tahun ke atas cek setiap 4–6 tahun jika risiko rendah, atau 1–2 tahun bila memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, obesitas, hipertensi, dan diabetes. Pemeriksaan ini penting karena kolesterol tinggi sering tanpa gejala (“silent killer”), sehingga deteksi dini dapat menyelamatkan. Langkah-langkah di atas membantu menjaga keseimbangan kolesterol: memperbanyak “pembersih” HDL dan membatasi “penumpuk” LDL. Selain itu, moderasi makanan olahan, cukup tidur, dan mengelola stres juga mendukung profil lipid yang sehat. Ingatlah, gaya hidup sehari-hari berpengaruh besar terhadap kadar kolesterolmu. Kesimpulan Kolesterol tidak sepenuhnya buruk, tapi perlu dijaga keseimbangannya. HDL berperan melindungi jantung dengan mengangkut kolesterol jahat ke hati, sedangkan LDL berisiko menimbun plak di arteri. Menjaga LDL < 100 mg/dL dan HDL ≥ 60 mg/dL adalah target ideal. Dengan pola makan kaya serat, olahraga teratur, serta pemeriksaan kolesterol rutin, kita dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Jangan tunggu gejala muncul — segera lakukan tes profil lipid untuk mengetahui kondisi kolesterol dalam darahmu. Langkah sederhana ini penting untuk jantung sehat seumur hidup. Sumber: Informasi dalam artikel ini berdasarkan Heartology (RS Jantung- Pembuluh Darah) dan Bumame Health yang membahas kolesterol, serta sumber medis terpercaya lainnya [bumame.com] [heartology.id] [heartology.id]

Kolesterol Baik vs Jahat, Pentingnya HDL dan LDL dalam Profil Lipid Read More »

Scroll to Top