18 Juni 2025

Gelombang Panas Asia Tenggara 2025: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Kita

Awal 2024 Asia Tenggara dilanda gelombang panas ekstrem. Sekolah ditutup, warga diperingatkan bahaya heatstroke, dan suhu udara mencetak rekor. Misalnya, pada April 2024 Manila menyentuh 47°C dan Bangkok 40,1°C (dengan indeks panas mencapai 52°C). Thailand melaporkan 30 orang meninggal karena serangan panas tahun itu, dan Myanmar mencatat ratusan kematian terkait suhu ekstrem. Fenomena El Niño memperparah keadaan ini. Tak kalah penting, kelembapan tinggi di wilayah tropis membuat panas terasa lebih menekan: keringat sulit menguap sehingga tubuh susah menurunkan suhu. WHO mencatat sekitar 489.000 kematian akibat suhu ekstrem per tahun (2000–2019), 45% di antaranya terjadi di Asia. Panas ekstrem memperburuk penyakit jantung, pernapasan, ginjal, dan meningkatkan kematian usia lanjut. WHO juga mengingatkan bahwa meski status darurat global dicabut, ancaman varian baru tetap ada – artinya kewaspadaan harus terus dijaga. Di Indonesia, BMKG memperingatkan beberapa daerah sudah mendekati suhu 38–39°C di musim kemarau 2025. Wilayah selatan ekuator seperti Jawa, Nusa Tenggara, dan Kalimantan rentan panas ekstrem karena tanah menyerap suhu lebih tinggi. Kelompok rentan (lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, penderita penyakit kronis) perlu ekstra hati-hati. Gelombang panas adalah “pembunuh senyap” yang kerap tidak dilaporkan. Bahayanya tak hanya terasa secara fisik, tapi juga bisa memicu stres kronis dan depresi pada beberapa orang. Oleh karena itu, meski matahari terik atau kelembapan tinggi, pastikan kita rutin minum, beristirahat cukup, dan pantau informasi cuaca terbaru – bukan hanya demi kenyamanan, tapi juga kesehatan jiwa kita. Sumber: Kompas “Cuaca Panas Ekstrem Melanda Asia Tenggara“ Detik Health “Cuaca RI Mulai ‘Menyengat’ Lagi, BMKG Ungkap Wilayah yang Hadapi Panas Ekstrem”

Gelombang Panas Asia Tenggara 2025: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Kita Read More »

Strategi Baru Lawan Dengue, Mengapa Indonesia dan WHO Memperkuat Pengawasan KLB?

Kasus dengue di Indonesia melonjak tajam. Pada 2024 tercatat 257.271 kasus dan 1.461 kematian DBD. Merespons hal ini, DPR RI bersama Kemenkes meluncurkan Strategi Bersama Lawan Dengue (KOBAR), menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030. Wakil Menteri Kesehatan mengingatkan pentingnya revisi Strategi Nasional Dengue 2021–2025 agar lebih adaptif: fokus pada deteksi dini, penanganan KLB, vaksinasi, dan teknologi inovatif seperti Wolbachia. Mereka juga menekankan penguatan surveilans real-time berbasis AI dan integrasi data kesehatan melalui platform SATUSEHAT. WHO juga mendukung langkah ini. Indonesia menjadi negara pertama Asia Tenggara yang menguji surveilans kolaboratif multisumber (MSCS) untuk dengue. Data dari Central Java menunjukkan sejak Januari–April 2025 kasus turun dibanding tahun lalu, berkat peringatan dini berbasis iklim dan entomologi. MSCS menggabungkan data cuaca, populasi nyamuk, dan data kesehatan secara lintas sektor. Direktur Surveilans Kemenkes menilai pendekatan ini menajamkan analisis data dan mengubah pola penanggulangan dari reaktif menjadi antisipatif. Singkatnya, kolaborasi Indonesia–WHO memperkuat pengawasan KLB dengue dengan inovasi: integrasi data cuaca dan vektor, deteksi dini, serta cetak biru revisi kebijakan nasional. Semua ini penting agar kita lebih siap menghadapi gelombang DBD berikutnya, daripada sekadar menunggu peringatan kasus melonjak. sumber: Liputan 6 “Dengue Darurat Nasional, Ini Strategi Baru DPR dan Kemenkes untuk Menghadapinya“ World Health Organization. “Dengue and Severe Dengue.” (Fact sheet)

Strategi Baru Lawan Dengue, Mengapa Indonesia dan WHO Memperkuat Pengawasan KLB? Read More »

Scroll to Top