Gangguan kesehatan mental pada remaja bisa meliputi stres berat, kecemasan, depresi, hingga pikiran negatif. Untuk mendukung anak remaja, orang tua perlu terlibat aktif dan mengedepankan komunikasi terbuka. UNICEF mendorong orang tua agar mendengarkan dengan empati: ajak bicara ringan tentang keseharian mereka, dan katakan bahwa Anda selalu siap mendengar apa pun keluhannya. Ekspresikan cinta dan dukungan tanpa menyalahkan, agar remaja merasa nyaman mengungkapkan perasaan.
Selain itu, luangkan waktu berkualitas bersama anak remaja. Misalnya, tentukan rutinitas harian yang menyenangkan seperti memasak bersama atau jalan-jalan santai. Kehadiran aktif orang tua memberi sinyal bahwa anak selalu punya teman bicara saat menghadapi tekanan hidup. Menurut Kemenkes, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan kasih sayang, memberi apresiasi, dan memperhatikan prestasi anak agar ia percaya diri dan lebih terbuka.
Saat terjadi masalah atau konflik, hadapi bersama secara tenang. Hindari bertengkar saat emosi memuncak; alih-alih menghukum, cobalah berdiskusi menenangkan. Jika remaja perlu dukungan lebih lanjut, jangan ragu ajak mereka berkonsultasi dengan profesional (psikolog/psikiater). Intinya, orang tua menjadi tempat bernaung remaja: dengan kesabaran, kasih, dan dukungan, anak akan merasa kuat menghadapi tantangan mentalnya.
Sumber: