Tips Sehat

Otak Cemerlang Si Kecil: 6 Trik Stimulasi Otak yang Seru

Periode emas anak adalah masa pembentukan otak dan kemampuan belajar. Pemenuhan gizi berkualitas sejak dini sangat penting untuk mendukung fungsi saraf dan daya ingat anak. Selain itu, stimulasi berupa bercakap, bermain, dan kasih sayang di rumah akan merangsang koneksi otak Si Kecil berkembang. Berikan makanan bergizi lengkap. Sajikan menu seimbang dengan beragam sumber protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. ASI eksklusif hingga 6 bulan juga krusial bagi perkembangan otak bayi. Setelah 6 bulan, lengkapi dengan sayur, buah, daging, ikan (omega-3) dan kacang-kacangan. Ajak bicara dan bermain bersama. Sering-seringlah berbicara, menyanyi lagu anak, atau membacakan cerita kepada buah hati. Aktivitas ini merangsang perkembangan bahasa dan komunikas. yang penting untuk kecerdasan otak. Ciptakan lingkungan bermain kreatif. Biarkan anak beresplorasi melalui permainan edukatif (puzzle, bangun-balok, melukis) dan aktivitas fisik ringan (lompat, lari kecil). Permainan dan gerakan bebas meningkatkan perkembangan saraf motorik dan pemecahan masalah. Cukup istirahat. Pastikan anak tidur teratur setiap malam. Saat tidur, otak ‘memproses’ informasi yang didapat dan memproduksi hormon pertumbuhan yang juga memengaruhi kinerja otak. Anak yang cukup tidur akan lebih segar dan fokus keesokan harinya. Lingkungan aman dan penuh kasih. Hindari stres berlebihan pada anak. Lingkungan yang tenang dan penuh cinta dari keluarga membantu otak anak tumbuh sehat. Rasa aman dan didukung orang tua memungkinkan anak belajar tanpa rasa takut. Dengan kombinasi gizi baik dan stimulasi positif sehari-hari, perkembangan otak anak dapat berlangsung optimal. Nikmati prosesnya sambil terus memberikan cinta dan perhatian. Sumber: Kemenkes WHO CDC

Otak Cemerlang Si Kecil: 6 Trik Stimulasi Otak yang Seru Read More »

Ikuti Anjuran Menkes: 4 Pilar Hidup Sehat yang Mudah Diterapkan

Menjaga kesehatan sejak muda penting demi usia tua yang aktif. Menkes mengingatkan tiga pilar utama pola hidup sehat: makan bergizi, rutin olahraga, dan cek kesehatan. Berikut ringkasan tips mudah mengikuti anjuran Menkes agar tubuh tetap bugar. Atur porsi makan “Isi Piringku”. Saat makan, usahakan setengah piring diisi sayur dan buah, sisanya karbohidrat dan protein. Pilih makanan sesuai usia: misalnya anak tinggi protein hewani (telur, susu), dewasa kurangi karbohidrat agar tidak memicu obesitas. Batasi gula, garam, dan lemak berlebih supaya terhindar dari diabetes dan penyakit jantung. Olahraga minimal 30 menit setiap hari. Lakukan aktivitas fisik ringan yang menyenangkan, seperti jalan santai, bersepeda, atau senam sederhana. Olahraga teratur dapat menjaga berat badan ideal dan mengurangi risiko penyakit kronis. Kuncinya konsisten: bila rutin bergerak, banyak penyakit berbahaya akan menjauh. Minum air cukup dan jaga kebersihan. Cukupi kebutuhan cairan tubuh (6–8 gelas/hari) agar organ bekerja optimal. Selain itu, biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. untuk mencegah penyakit infeksi. Periksa kesehatan rutin. Lakukan skrining kesehatan (tekanan darah, kolesterol, gula darah, skrining kanker) setidaknya 6–12 bulan sekali. Deteksi dini penyakit seperti jantung, stroke, atau kanker meningkatkan peluang pengobatan berhasil. Jangan tunggu gejala muncul, cek rutin demi mencegah risiko serius. Dengan menerapkan tips di atas secara konsisten, kita lebih siap menghadapi hari tua dengan sehat. Buatlah kebiasaan ini sejak dini untuk hasil yang maksimal. Sumber: Menkes Kemenkes

Ikuti Anjuran Menkes: 4 Pilar Hidup Sehat yang Mudah Diterapkan Read More »

Usia Emas Produktif, 5 Cara Menjaga Vitalitas di Usia 18–59 Tahun

Usia produktif (18–59 tahun) ditandai dengan banyaknya aktivitas sehari-hari. Menjaga kesehatan pada fase ini penting agar tetap produktif. Pola hidup sehat yang meliputi makanan seimbang, olahraga, manajemen stres, dan cek kesehatan rutin sangat menentukan kualitas hidup. Pola makan sehat. Perhatikan asupan makanan bergizi dan seimbang setiap hari. Konsumsilah aneka sayur, buah, sumber protein, dan karbohidrat kompleks. Sarapan tepat waktu juga penting untuk mendukung energi seharian. Rutin beraktivitas fisik. Sisihkan waktu untuk olahraga ringan minimal 30 menit sehari. Aktivitas seperti jalan kaki, bersepeda, atau yoga membantu menjaga kebugaran, mendukung metabolisme, dan menurunkan risiko penyakit. Kelola stres dengan baik. Bagi waktu istirahat di sela kesibukan. Lakukan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi jika merasa penat. Kesehatan mental yang terjaga akan mendukung produktivitas fisik juga. Cek kesehatan secara berkala. Jangan abaikan skrining rutin seperti cek tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi dini gangguan kesehatan, sehingga dapat segera ditangani. Jaga gaya hidup sehat lainnya. Tidur cukup 7–8 jam malam hari, batasi konsumsi rokok dan alkohol, serta cukupi kebutuhan air setiap hari. Kebiasaan baik ini penting untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh dalam aktivitas sehari-hari. Dengan konsistensi menerapkan kebiasaan sehat di usia dewasa, Anda akan mendapatkan produktivitas dan kualitas hidup yang optimal. Terapkan sedini mungkin agar tubuh kuat mendukung segala aktivitas. Sumber: Kemenkes RI Menkes

Usia Emas Produktif, 5 Cara Menjaga Vitalitas di Usia 18–59 Tahun Read More »

Hidup Setelah Pandemi, Kebiasaan Sehat yang Perlu Dipertahankan

Tahukah Anda, sebelum 2020 hanya sekitar 20 % warga Jakarta yang rajin mencuci tangan setiap kali tiba di rumah? Kini, saat kemarin saya mampir ke rumah Siti di Bandung, ia bercerita bagaimana keluarga kecilnya saling “menegur” kalau ada yang malas mencuci tangan usai berbelanja. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata lebih dari sekadar kebersihan—ia menjadi benteng pertama kita melawan berbagai penyakit. Pernahkah Anda memperhatikan, sejak pandemi berakhir, udara di rumah terasa lebih “bersahabat”? Bukan hanya soal membuka jendela—ventilasi yang baik juga mengurangi stres dan bikin mood lebih ceria. Misalnya, menurut laporan WHO Maret 2022, ruangan dengan sekali pergantian udara setiap 15 menit menurunkan risiko penularan penyakit saluran pernapasan hingga 30 %¹. Jadi, saat kita menyalakan exhaust fan di kamar atau ruang tamu, bukan sekadar mengusir panas, melainkan juga memfilter “beban” virus di udara. Tak kalah penting, mari bicarakan soal masker. Saat saya batuk ringan beberapa waktu lalu, Ahmad di kantor sempat menanyakan, “Kamu gak pakai masker?”—sebuah tanda kepedulian yang dulu jarang kita lihat. Menurut Kemenkes RI melalui survei Litbang 2024, 70 % responden masih rutin memakai masker ketika flu². Dengan terus melanjutkan kebiasaan ini, kita bukan hanya menjaga kesehatan diri, tapi juga menghormati orang di sekitar. Bagaimana dengan pola hidup? GERMAS Kemenkes menargetkan minimal 150 menit aktivitas ringan–sedang per minggu, setara jalan cepat 30 menit lima hari seminggu³. Rutin bersepeda santai di sore hari juga salah satu solusi—sekalian melepas penat dan memastikan tubuh “bergerak” setelah seharian di depan layar. Jangan lupa, konsumsi buah dan sayur setiap hari: apel atau pepaya sebagai camilan sore, salad segar saat makan malam. Terakhir, kesehatan mental. Coba ingat—beberapa teman sempat merasa cemas saat harus kembali bertemu banyak orang. Tips sederhana: tulis tiga hal yang Anda syukuri setiap malam, atau ajak keluarga video call saat hujan turun. Menurut Ikatan Psikolog Indonesia, kebiasaan ini menurunkan tingkat stres hingga 25 %⁴. Mulai hari ini, yuk kita catat: Cuci tangan 20 detik setiap pulang ke rumah. Buka jendela atau pakai exhaust fan minimal 2× sehari. Masker saat flu atau di keramaian. Aktivitas fisik 150 menit/minggu. Jurnal syukur setiap malam. Dengan langkah kecil ini, “hidup setelah pandemi” bukan hanya soal kembali normal, tapi juga membangun kebiasaan sehat yang membuat kita lebih tangguh—dan lebih bahagia bersama.   Sumber: WHO, “Airborne transmission of respiratory viruses,” Maret 2022 Litbang Kemenkes RI, “Survei Kebiasaan Masker Pascapandemi,” Juli 2024 GERMAS Kemenkes RI, “Panduan Aktivitas Fisik,” 2023 Ikatan Psikolog Indonesia, “Strategi Mengelola Stres,” 2024

Hidup Setelah Pandemi, Kebiasaan Sehat yang Perlu Dipertahankan Read More »

Apa Benar, Tidur dengan Kaki Dingin Bisa Membantu Cepat Terlelap?

Pernah nggak sih di tengah malam, kamu merasa kaki kedinginan dan bertanya-tanya, “Apa jangan-jangan makin susah tidur karena kaki dingin begini?” Banyak yang bilang, kalau kaki dingin, kita bakal cepat terlelap. Tapi, benarkah tenaga sains setuju? Saya sendiri pernah kedinginan sampai pakai kaus kaki dua lapis—ternyata malah susah fokus buat tidur. Menurut National Sleep Foundation (2021), tidur yang berkualitas sebenarnya dimulai ketika suhu inti tubuh kita turun. Alih-alih membantu, kaki yang terlalu dingin justru bikin tubuh ‘panik’ dan berusaha mengalirkan darah hangat dari bagian tubuh lain ke kaki kita. Hasilnya, proses penurunan suhu inti tertunda dan melatonin—hormon yang bikin kita ngantuk—baru diproduksi lebih lama. Intinya, kaki dingin bukan jalan pintas buat cepat tidur. Di sisi lain, sejumlah peneliti di Sleep Medicine Reviews (2007) menemukan bahwa menghangatkan kaki sebelum tidur—dengan merendam kaki di air hangat atau pakai kaus kaki lembut—mendorong pembuluh darah melebar. Ini bikin tubuh lebih mudah “melepas” panas. Saya pernah coba rendaman kaki hangat 10 menit, dan rasanya rileks banget, kantuk datang lebih cepat meski air conditioner di kamar agak nyala. Kalau kamu tinggal di daerah cuaca lembap kayak Jakarta, simpel saja: rendam kaki dengan air hangat sekitar 40°C sebelum tidur, lalu kenakan kaus kaki berbahan katun atau wol merino biar hangatnya pas (Hello Sehat, 2023). Pastikan suhu kamar sekitar 20–22°C agar tidak terlalu dingin, tapi juga nggak terlalu panas sehingga keringat. Singkatnya, tidur dengan kaki kedinginan justru bisa bikin kita lebih lama melek. Jadi, daripada meratap karena kedinginan, mendingan hangatkan kaki sedikit—lumayan membantu tubuh “memulai” proses tidur lebih cepat. Perubahan sederhana ini ternyata bisa mengurangi stres setelah seharian beraktivitas, membuat kita bangun dengan perasaan lebih segar di pagi hari. Selamat mencoba, dan semoga malammu lebih nyenyak! Sumber: National Sleep Foundation (2021) Sleep Medicine Reviews (2007) Hello Sehat (2023)

Apa Benar, Tidur dengan Kaki Dingin Bisa Membantu Cepat Terlelap? Read More »

Mengapa Kita Menguap? Fakta Unik di Balik Kebiasaan Sehari-hari

Mengapa Kita Menguap? Ini Penjelasan Ilmiahnya Menguap adalah hal yang sangat umum dan alami. Kita semua pernah menguap, baik saat lelah, bosan, atau bahkan hanya karena melihat orang lain menguap. Tapi tahukah kamu bahwa menguap sebenarnya menyimpan banyak fakta unik dan menarik dari sisi kesehatan dan ilmu saraf? Apa Itu Menguap? Menguap adalah refleks tubuh berupa tarikan napas panjang melalui mulut, diikuti oleh hembusan napas yang lambat. Biasanya diiringi dengan peregangan ringan dan mata berair. Meski terlihat sederhana, mekanisme ini melibatkan kerja sama kompleks antara otak, otot, dan sistem pernapasan. Teori Mengapa Kita Menguap Hingga saat ini, belum ada satu jawaban pasti mengapa manusia menguap, tetapi ada beberapa teori ilmiah yang menjelaskannya: Mengatur Suhu Otak – Salah satu teori paling kuat menyebutkan bahwa menguap berfungsi untuk mendinginkan otak. Seperti halnya kipas angin yang mendinginkan ruangan, menarik napas dalam saat menguap dapat membantu mengurangi suhu otak yang meningkat karena kelelahan atau stres. Meningkatkan Kewaspadaan – Menguap bisa menjadi cara tubuh untuk tetap terjaga dan siaga. Ketika kadar oksigen di otak menurun (misalnya saat lelah atau bosan), menguap membantu menarik lebih banyak udara dan meningkatkan suplai oksigen, yang kemudian membuat kita sedikit lebih segar dan fokus. Respon Sosial dan Empati – Pernah ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya? Itu karena menguap bisa menular secara sosial. Penelitian menunjukkan bahwa ini berkaitan dengan empati dan keterikatan sosial. Semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar kemungkinan kita ikut menguap saat mereka melakukannya. Sinyal Transisi Tubuh – Menguap sering muncul di antara waktu-waktu transisi seperti sebelum tidur atau bangun tidur. Ini bisa menjadi sinyal tubuh bahwa kita sedang berpindah dari satu kondisi mental atau fisik ke kondisi lain — misalnya dari aktif ke rileks.   Apakah Menguap Selalu Pertanda Mengantuk? Tidak selalu. Meskipun menguap sering dikaitkan dengan rasa kantuk, kondisi lain seperti stres, kebosanan, atau bahkan perubahan suhu ruangan juga bisa memicu menguap. Dalam beberapa kasus medis, sering menguap berlebihan bisa menjadi tanda gangguan kesehatan seperti gangguan tidur, masalah jantung, atau gangguan saraf, meskipun ini sangat jarang. 📚 Fakta Unik tentang Menguap Janin sudah mulai menguap sejak dalam kandungan pada usia kehamilan sekitar 11 minggu. Hewan seperti anjing, kucing, dan bahkan burung juga menguap, sering kali karena alasan yang mirip dengan manusia. Menguap tidak bisa ditahan sepenuhnya—semakin kamu mencoba menahan, biasanya semakin besar dorongan untuk menguap. Jadi, Kesimpulannya Menguap itu bukan cuma soal kantuk, menguap adalah respons alami tubuh yang punya fungsi penting, mulai dari mendinginkan otak hingga menjaga kewaspadaan, juga cara tubuh ngejaga keseimbangan dan performa otak. Meskipun sering dianggap remeh, menguap menyimpan berbagai makna yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan sosial. Jadi, lain kali kamu menguap, senyum aja, itu artinya tubuhmu sedang bekerja menjaga keseimbangan dan tetap prima!   Sumber: Penjelasan dan kutipan didukung oleh Halodoc dan Alodokter, yang menjelaskan fungsi menguap untuk mendinginkan otak dan indikasi medis bila berlebihan.

Mengapa Kita Menguap? Fakta Unik di Balik Kebiasaan Sehari-hari Read More »

Panduan Memperbaiki Postur Badan, Hindari Bahu Membungkuk

Risiko Postur Buruk Bahu membungkuk (postur tubuh bungkuk) umum terjadi pada pekerja kantoran karena duduk lama di depan komputer. Postur ini dapat menyebabkan nyeri leher, bahu, dan punggung, serta menurunkan fleksibilitas otot dan mengganggu fungsi pernapasan dan pencernaan. Kebiasaan ini bahkan bisa memengaruhi keseimbangan tubuh dan produktivitas kerja. Manfaat Postur Baik Postur tegak memberi banyak manfaat kesehatan. Mayo Clinic menekankan bahwa postur yang baik dapat mengurangi stres pada otot punggung. Latihan punggung atas seperti wall slides membantu meluruskan tulang belikat dan memperkuat otot punggung. MedlinePlus juga menyatakan bahwa postur tubuh yang benar penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang dan mencegah cedera. Dengan latihan teratur, postur baik membuat tubuh bekerja lebih efisien sehingga Anda akan tampak dan merasa lebih baik. Tips Praktis Memperbaiki Postur Berdiri tegak, Tarik bahu ke belakang, dada terbuka, dan kepala sejajar. Posisi ini menjaga tulang belakang lurus dan mencegah kebungkukan. Duduk dengan benar, Gunakan sandaran kursi yang menopang punggung bawah (misal bantal kecil), lutut sejajar pinggul, dan bahu rileks. Ubah posisi duduk setiap 30 menit dengan berdiri sejenak atau berjalan ringan. Lakukan peregangan sederhana, Lakukan doorway stretch dengan berdiri di kusen pintu untuk membuka otot dada dan meregangkan bahu. Lanjutkan dengan scapular wall slide: bersandar pada dinding lalu angkat-turunkan lengan sambil menjaga punggung menempel, untuk memperkuat punggung atas dan meluruskan bahu. Latih otot inti dan punggung, Perkuat core dengan plank atau latihan tahan beban sederhana agar tulang belakang mendapat dukungan lebih baik. Otot inti yang kuat membantu menopang postur tubuh secara keseluruhan. Istirahat dan cek postur, Istirahatkan tubuh dengan berdiri atau berjalan ringan tiap 30 menit. Cek postur dengan berdiri menempel dinding (tumit ~15 cm dari dinding) sehingga pantat, bahu, dan kepala menempel. Posisi ini membantu melatih tubuh agar terbiasa lurus. Dengan tips sederhana di atas, Anda bisa memperbaiki postur bahu dan punggung atas tanpa alat khusus. Lakukan secara rutin; lama-kelamaan nyeri berkurang dan tubuh terasa lebih bugar serta nyaman. 💡Sumber: Artikel ini merujuk pada informasi dari Mayo Clinic, MedlinePlus (National Institutes of Health), dan Healthline – tiga referensi medis terpercaya yang sering digunakan dalam edukasi kesehatan global.

Panduan Memperbaiki Postur Badan, Hindari Bahu Membungkuk Read More »

5 Latihan Ringan untuk Mengurangi Nyeri Leher di Meja Kerja

Berada berjam-jam di depan komputer kerap membuat leher kaku dan pegal. Untungnya, ada beberapa gerakan sederhana yang bisa dilakukan sambil duduk di meja kerja untuk melepaskan ketegangan otot leher. 1. Neck Tilt (menunduk & mengadah) Gerakan pertama adalah Neck Tilt (menunduk dan menengadah). Cara melakukannya, duduk tegak, lalu perlahan turunkan dagu menuju dada dan kemudian angkat kepala menengadah ke atas. Ulangi beberapa kali perlahan. Gerakan ini membantu meregangkan otot leher bagian belakang, mengurangi ketegangan, dan membuat kepala lebih rileks. 💡Baca juga: “Postur Duduk Buruk Bisa Picu Masalah Serius, Lho!“ 2. Neck Side Stretch (miring ke samping) Kemudian coba gerakan Neck Side Stretch (miring ke samping). Caranya mudah: duduk tegak, miringkan kepala ke satu sisi hingga telinga hampir menyentuh bahu, lalu kembali ke posisi tengah dan miring ke sisi lainnya. Lakukan perlahan dan rasakan regangan di sisi leher. Manfaatnya melepas ketegangan otot samping leher dan bahu, memperbaiki fleksibilitas leher, serta membantu meredakan nyeri akibat posisi kerja yang statis. 3. Neck Rotation (putar leher) Selanjutnya, ada Neck Rotation (putar leher) yang membantu melenturkan leher. Lihat lurus ke depan, lalu perlahan putar leher ke kanan seakan menengok ke bahu kanan, tahan sebentar, lalu kembali ke posisi semula. Ulangi ke kiri. Gerakan memutar leher ini membantu memperluas rentang gerak leher, mengurangi kekakuan otot, dan membuat leher lebih leluasa bergerak. 4. Shoulder Roll (putar bahu) Tak hanya leher, bahu juga butuh peregangan. Cobalah Shoulder Roll (putar bahu). Duduk tegak, angkat kedua bahu ke depan, kemudian tarik ke atas dan putar ke belakang secara melingkar. Ulangi beberapa kali, lalu putar bahu dari belakang ke depan. Gerakan menggulung bahu ini efektif melemaskan otot bahu dan punggung atas sehingga mengurangi ketegangan yang biasa menjalar ke leher. 💡Baca juga: “5 Olahraga Ringan yang Bisa Dilakukan di Rumah“ 5. Chin Tuck (dorong dagu ke belakang) Terakhir, gerakan Chin Tuck (dorong dagu ke belakang) juga penting untuk postur. Duduk dengan punggung lurus, lalu tarik dagu ke arah leher (seperti membuat dagu ganda) dan tahan sebentar sebelum kembali ke posisi semula. Gerakan ini membantu menguatkan otot leher bagian depan dan memperbaiki posisi kepala. Hasilnya, kepala lebih sejajar dengan tulang belakang, mengurangi tekanan pada leher dan menghindari nyeri. 💡Tips tambahan: “Pastikan posisi layar sejajar mata, kursi dan meja ergonomis, serta gunakan sandaran punggung. Jangan duduk membungkuk atau dengan kepala maju terlalu lama.” Setiap gerakan di atas bisa dilakukan beberapa detik sampai satu menit, beberapa kali sehari, terutama saat leher mulai terasa kaku. Kuncinya adalah rutin melakukannya agar manfaatnya maksimal. Dengan menyelipkan latihan ringan sederhana ini di sela-sela kerja, nyeri leher perlahan akan berkurang dan Anda bisa bekerja lebih nyaman. Semangat! Yuk, sisipkan gerakan ringan ini secara rutin di sela-sela kerja agar leher selalu lebih sehat!

5 Latihan Ringan untuk Mengurangi Nyeri Leher di Meja Kerja Read More »

Benarkah Minum Es Bisa Sebabkan Radang Tenggorokan?

Apa Itu Kalori dan Kenapa Kita Harus Tahu? Kalori adalah satuan energi yang digunakan untuk mengukur jumlah energi yang diperoleh dari makanan dan minuman. Dalam konteks nutrisi, kalori menunjukkan seberapa banyak energi yang diberikan makanan untuk mendukung fungsi tubuh. Mengapa Kalori Penting? Kalori berperan sebagai bahan bakar utama bagi tubuh. Energi yang diperoleh dari makanan digunakan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh, seperti bernapas, bergerak, berpikir, dan mencerna makanan. Tanpa kalori, tubuh tidak akan memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari. Sumber Kalori Kalori dalam makanan berasal dari tiga makronutrien utama: Karbohidrat: Memberikan 4 kalori per gram. Protein: Memberikan 4 kalori per gram. Lemak: Memberikan 9 kalori per gram. Selain itu, alkohol juga memberikan energi, yaitu 7 kalori per gram, meskipun tidak dianggap sebagai nutrisi esensial. Kebutuhan Kalori Harian Kebutuhan kalori setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan tujuan kesehatan. Sebagai panduan umum: Wanita: 2150 – 2250 kkal per hari. Pria: 2550 – 2650 kkal per hari. Dampak Kekurangan dan Kelebihan Kalori Kekurangan Kalori: Dapat menyebabkan kelelahan, penurunan berat badan yang tidak sehat, dan gangguan metabolisme. Kelebihan Kalori: Dapat menyebabkan obesitas, meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya. Mengetahui jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari sangat penting untuk menjaga keseimbangan energi dan kesehatan tubuh. Dengan memahami konsep kalori, kita dapat membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Benarkah Minum Es Bisa Sebabkan Radang Tenggorokan? Read More »

Suhu Tubuh Ideal Manusia: Apa Artinya Jika Naik/Turun?

Suhu tubuh manusia adalah indikator penting dari kesehatan seseorang. Suhu tubuh yang ideal biasanya berkisar antara 36,1°C hingga 37,2°C. Namun, suhu tubuh dapat mengalami perubahan sepanjang hari karena berbagai faktor, termasuk aktivitas fisik, lingkungan, dan kondisi kesehatan. Suhu Tubuh Normal Banyak orang menganggap suhu tubuh normal adalah 37°C, tetapi penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata manusia sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 36,7°C. Suhu tubuh juga dapat bervariasi berdasarkan usia: Bayi dan anak-anak: 36,6°C – 37,2°C. Dewasa: 36,1°C – 37,2°C. Lansia: Lebih rendah dari 36,2°C. Apa yang Terjadi Jika Suhu Tubuh Naik? Kenaikan suhu tubuh bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti: Demam: Biasanya terjadi akibat infeksi virus atau bakteri. Aktivitas fisik: Olahraga dapat meningkatkan suhu tubuh sementara. Lingkungan panas: Tubuh akan berkeringat untuk mendinginkan diri. Merokok: Dapat meningkatkan suhu paru-paru dan tubuh. Jika suhu tubuh melebihi 40°C, seseorang berisiko mengalami hipertermia, yang bisa berbahaya bagi kesehatan. Apa yang Terjadi Jika Suhu Tubuh Turun? Penurunan suhu tubuh juga bisa menjadi tanda kondisi tertentu, seperti: Hipotermia: Suhu tubuh di bawah 35°C bisa berbahaya dan mengindikasikan gangguan kesehatan. Usia lanjut: Lansia cenderung memiliki suhu tubuh lebih rendah. Lingkungan dingin: Tubuh akan menggigil untuk menghasilkan panas. Kesimpulan Suhu tubuh manusia adalah mekanisme penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Perubahan suhu tubuh bisa menjadi tanda kondisi kesehatan tertentu, sehingga penting untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi suhu tubuh dan cara mengatasinya. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa membaca artikel lengkap di Hello Sehat, DokterSehat, dan Halodoc.

Suhu Tubuh Ideal Manusia: Apa Artinya Jika Naik/Turun? Read More »

© Copyright 2023. PT. Populer Sarana Medika

Scroll to Top